PENAJAM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) secara tegas menyatakan bahwa upaya penanggulangan bencana alam harus menjadi tanggung jawab kolektif yang melibatkan semua pihak.
Kepala BPBD PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro, menggarisbawahi pentingnya partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat ketahanan daerah.
”Jadi perlu disadari semua, bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga dunia usaha, masyarakat, kelompok, relawan, dan komunitas,” tegas Sukadi (13/12/25).
Sebagai wujud nyata dari strategi tanggung jawab bersama ini, BPBD PPU terus giat melaksanakan program unggulan yaitu Desa Tangguh Bencana (Destana).
Program ini bertujuan utama untuk menciptakan desa yang mandiri, di mana warga desa memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman, mengelola risiko, dan secara aktif mengurangi dampak bencana di wilayah mereka sendiri.
Sukadi mengungkapkan, kemajuan program Destana di PPU cukup signifikan. Dari total 54 desa yang ada, BPBD telah berhasil membentuk dan membina 21 desa menjadi Destana.
Desa-desa yang sudah masuk dalam program ini meliputi kawasan penting seperti Nenang, Nipah-Nipah, dan Gunung Steleng.
Dengan terbentuknya Destana, harapan BPBD PPU sangat besar. Sukadi Kuncoro berharap, pengetahuan dan kesiapan siaga masyarakat dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor, akan meningkat pesat.
”Kami berharap, dengan adanya Destana, pengetahuan dan kesiapan siaga masyarakat dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi akan jauh meningkat,” pungkasnya.
Langkah strategis ini juga diiringi dengan himbauan yang terus menerus agar masyarakat selalu siaga, sehingga kerugian material maupun korban jiwa dapat diminimalisir secara efektif.
Inisiatif Destana ini dianggap kunci agar PPU memiliki ketahanan bencana yang kuat, dimulai dari tingkat komunitas paling bawah. (Adv)







