Sasar 35 Ribu Penerima, Pemkab PPU Luncurkan Program MBG November Tahun Ini

PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) secara proaktif mengambil langkah signifikan untuk merealisasikan program Makan Bergizi (MBG). Melalui inisiatif mandiri, PPU menargetkan 100% implementasi program ini mulai bulan November 2025. Sasarannya mencakup sekitar 33.000 siswa, serta kelompok rentan lainnya seperti ibu hamil dan anak-anak balita.

Bupati PPU, Mudyat Noor, menegaskan bahwa persiapan program ini sudah sangat matang dan terstruktur.

“Kami telah mengadakan rapat koordinasi intensif dengan seluruh kepala sekolah di PPU. Sekolah-sekolah yang belum memiliki kesiapan SPPG-nya (Sentra Penjaminan Pelayanan Gizi) tidak perlu khawatir, karena Pemda akan turun tangan langsung untuk memastikan mereka siap,” jelas Mudyat Noor, Senin (15/9/2025).

Program MBG di PPU ini didesain sebagai inisiatif mandiri, di mana setiap sekolah akan bertanggung jawab langsung dalam pelaksanaannya. Mudyat menjelaskan bahwa skema ini bertujuan untuk meminimalkan birokrasi dan memaksimalkan efisiensi. Untuk sekolah yang masih dalam tahap awal atau belum memiliki SPPG, Pemda akan segera mencarikan solusi dan bimbingan.

“Bagi yang tidak punya SPPG, kita tinggal cari sekolahnya yang mana, jadi kita akan langsung menujunya ke sana untuk membantu persiapan,” tambahnya.

Saat disinggung mengenai kepastian waktu, Mudyat optimistis bahwa program ini akan berjalan sesuai jadwal.

“Kita menunggu perubahan anggaran. Paling tidak di bulan November nanti, program ini sudah bisa berjalan dan dinikmati masyarakat,” tuturnya.

Mudyat Noor juga menyoroti pentingnya pemerataan dalam program ini. Meskipun ada program sejenis yang ditangani oleh Badan Gizi Nasional (BGN), Pemda PPU berinisiatif untuk memastikan tidak ada satu pun warga yang terlewat dari manfaat program ini.

“Kita yakin tidak bisa 100% mengandalkan program BGN. Maka dari itu, Pemda mengambil inisiatif untuk memastikan bantuan ini bisa merata, jangan sampai ada yang dapat dan ada yang tidak,” tegasnya.

Lebih dari sekadar bantuan sosial, Mudyat melihat program MBG ini sebagai motor penggerak ekonomi lokal. Dengan puluhan ribu penerima, kebutuhan bahan pangan akan meningkat secara drastis, menciptakan pasar baru bagi para wirausahawan lokal.

“Bayangkan, dengan sekitar 35.000 penerima, kami perkirakan kebutuhan harian mencapai 3.000 ekor ayam dan 15.000 butir telur, belum lagi sayur dan kebutuhan lainnya. Ini adalah potensi besar bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha mereka dan mendapatkan penghasilan,” ungkap Mudyat,

Meskipun nilai anggaran masih dalam tahap perhitungan, Mudyat berharap program ini mendapat dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat. Ia menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif warga.

“Program ini luar biasa dan harus kita dukung penuh. Masyarakat harus siap, karena program ini bukan hanya tentang gizi, tapi juga tentang kesejahteraan dan kemandirian ekonomi kita semua,” pungkas mudyat.(Adv)

Penulis: Ayu




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *