DPRD Kaltim Dorong Pemuda Kuasai Keterampilan Digital dan Bahasa Asing di Era Transformasi Teknologi

Ket. foto: Anggota DPRD Kalimantan Timur, Sapto Setyo Pramono.

Samarinda — Perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat menjadi tantangan besar bagi generasi muda Indonesia. Hal ini kembali disampaikan Anggota DPRD Kalimantan Timur, Sapto Setyo Pramono, yang menilai bahwa anak muda harus memiliki kesiapan yang jauh lebih matang untuk bisa bersaing dalam arus transformasi digital yang kini menyentuh hampir seluruh sektor kehidupan.

“Yang paling utama adalah generasi muda harus benar-benar mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan yang ada,” ujar Sapto, Rabu (3/12/2025).

Menurutnya, perubahan digital menuntut lulusan muda tidak hanya memahami teori yang diajarkan di kampus, tetapi juga mampu menguasai keterampilan praktis berbasis teknologi.

Ia mencontohkan kebutuhan mahasiswa teknik sipil untuk menguasai perangkat lunak yang menjadi standar industri.

“Untuk mahasiswa teknik sipil, Autocad itu alat yang mempermudah proses penggambaran. Itu hanya alat bantu, namun kemampuan menggambar tetap wajib dikuasai,” jelasnya.

Sapto menekankan bahwa dunia kerja kini bergerak lebih cepat daripada proses pembelajaran formal yang ada di perguruan tinggi.

Karena itu, ia menilai perlu ada perbaikan dalam pola pengajaran, khususnya agar mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengasah kemampuan teknis yang memang dibutuhkan ketika mereka terjun ke industri.

“Saya berharap para dosen ke depan bisa memaksimalkan pembelajaran secara lebih mendalam. Jangan hanya sebatas teori, karena tantangan setelah lulus itu jauh lebih besar,” ungkapnya.

Selain kompetensi teknis, Sapto menyoroti pentingnya keterampilan bahasa sebagai salah satu faktor yang sering menghambat peluang anak muda Indonesia bersaing di tingkat global.

Ia mendorong generasi muda untuk mempelajari lebih banyak bahasa asing, tidak hanya bahasa internasional umum.

“Indonesia berada dalam arus globalisasi. Tidak ada salahnya kita mempelajari lebih banyak bahasa. Jangan hanya Bahasa Inggris, tetapi tambahkan juga Mandarin supaya kita tidak kalah bersaing dengan tenaga asing,” tegasnya.

Sapto melihat bahwa masih lemahnya budaya membaca turut memengaruhi kualitas literasi pemuda, sehingga berdampak pada tingkat pemahaman, referensi, bahkan kreativitas mereka dalam menciptakan sesuatu.

Kebiasaan instan dan konsumtif menurutnya menjadi salah satu tantangan sosial yang membuat masyarakat sulit melompat menjadi bangsa pencipta.

“Kita sebenarnya tidak kalah dari sisi pengetahuan, hanya saja keterbatasan bahasa sering menjadi kendala. Selain itu, budaya membaca kita masih lemah. Banyak yang ingin serba instan, sehingga kita mudah terjebak menjadi negara konsumen,” tuturnya. (Adv/DprdKaltim)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *