Budidaya Ikan di PPU Tetap Stabil di Musim Penghujan, Antisipasi Dini Kunci Utama

PENAJAM – Aktivitas budidaya perikanan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dilaporkan tetap berjalan optimal, meskipun wilayah tersebut kini memasuki periode musim hujan dengan curah hujan yang cukup intens. Kesiapan pembudidaya dalam menerapkan protokol standar operasional dinilai menjadi faktor krusial yang menjaga stabilitas produksi.

​Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten PPU, Rozihan Asward, memastikan bahwa kegiatan pemeliharaan ikan tidak mengalami kendala signifikan. Pihaknya telah melakukan pemantauan intensif, dan hasilnya menunjukkan bahwa para pelaku usaha di sektor perikanan telah mengambil langkah antisipatif sejak awal.

​Rozihan menjelaskan bahwa perubahan kualitas air adalah tantangan utama yang selalu diwaspadai selama musim penghujan. Air hujan, yang secara alami memiliki sifat lebih asam, berpotensi menyebabkan penurunan kadar pH (derajat keasaman) air kolam secara drastis. Kondisi ini, jika tidak ditangani, dapat memicu stres berat pada ikan hingga menyebabkan kematian.

​”Rekan-rekan di lapangan sudah mengantisipasi hal ini dari permulaan. Begitu terdeteksi ada kemerosotan mutu air, sistem penggantian secara mandiri langsung dioperasikan. Oleh karena itu, hasil panen tetap terjamin aman kendati kita berada di tengah musim basah,” ujar Rozihan (4/12/25).

​Ia menambahkan, pengujian parameter air dilakukan secara rutin. Para pembudidaya memeriksa pH air menggunakan alat ukur khusus, yang umumnya dilakukan setiap satu hingga dua minggu sekali. Namun, frekuensi pemeriksaan ini ditingkatkan saat hujan turun deras.

​”Jika terdeteksi bahwa tingkat keasaman (pH) terlalu rendah atau di bawah batas normal, tindakan perbaikan langsung dieksekusi,” tegasnya.

​Secara umum, Rozihan menyebutkan bahwa musim hujan tidak terlalu memberikan dampak buruk, terutama bagi pembudidaya yang mengelola kolam permanen. Namun, perhatian khusus diberikan kepada kolam-kolam berbahan terpal.

​”Musim penghujan memang tidak terlalu berpengaruh luas, hanya saja kolam-kolam terpal harus lebih dimonitor ketat kondisi airnya, karena limpahan air hujan yang masuk menyebabkan pergeseran baik pada temperatur maupun pH,” papar Rozihan.

​Untuk menanggulangi masuknya air hujan yang bersifat asam, prosedur baku yang diterapkan adalah penggantian air secara otomatis segera setelah terdeteksi adanya perubahan pH.

​Selain fluktuasi derajat keasaman, parameter lain yang tak luput dari pengawasan ketat adalah perubahan suhu air. Suhu yang tidak stabil dapat memengaruhi nafsu makan dan sistem metabolisme ikan, yang pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan.

​Oleh karena itu, pergantian air secara berkala dan pengaturan laju debit air ke dalam kolam menjadi strategi yang paling efektif dan umum digunakan oleh pembudidaya di PPU untuk mempertahankan lingkungan yang kondusif bagi ikan.

​Meskipun intensitas hujan yang melanda cukup tinggi, kondisi ini tidak menciptakan gangguan yang berarti pada proses pemeliharaan. Hal ini membuktikan bahwa standar pengelolaan air yang telah dipahami dan diterapkan oleh pembudidaya PPU mampu meredam risiko yang ditimbulkan oleh faktor cuaca ekstrem.

Sistem mitigasi ini disebut Rozihan telah menjadi prosedur standar operasional (SOP) yang diterapkan secara merata di wilayah PPU. (Adv)

Penulis : ayu




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *