Jalan SMPN 23 PPU Licin dan Rusak, Begini Penjelasan Lurah Petung

PENAJAM – Keluhan masyarakat mengenai rusaknya jalan menuju SMP Negeri 23 Penajam Paser Utara (PPU) di wilayah Kelurahan Petung akhirnya direspons oleh pemerintah setempat. Kondisi jalan yang hancur, licin, dan berlumpur tersebut sebelumnya sempat viral setelah warga memasang spanduk serta menanam pohon pisang di kubangan jalan sebagai bentuk protes.

​Lurah Petung, Achmad Fitriady, menyampaikan bahwa situasi ini menjadi perhatian serius pihaknya. Ia menjelaskan perkara serta langkah-langkah yang diambil untuk mengatasi persoalan tersebut.

​Fitriady mengungkapkan, selain karena faktor cuaca ekstrem, hancurnya akses jalan ini berkaitan erat dengan proyek pembangunan gedung sekolah yang masih berjalan.

Karena jalan tersebut masih berupa tanah dasar tanpa pengeras, aktivitas kendaraan pengangkut material membuat kondisi jalan semakin parah.

​”Masih ada kurang lebih 80 rit timbunan tanah campur batu yang harus masuk ke lokasi. Ini memang harus dituntaskan lebih dulu lantaran pembangunan SMP 23 masih dalam tahap pengerjaan,” ungkap Ady (15/1/26).

​Ia menegaskan, perbaikan jalan secara total oleh Dinas PUPR belum memungkinkan untuk saat ini. Alasannya, jalan akan kembali rusak jika dipaksa diperbaiki sementara alat berat masih berlalu-lalang.

“Kontraktor pelaksana proyek sekolah punya kewajiban untuk merawat jalan tersebut selama mereka bekerja,” cetusnya.

​Salah satu strategi unik yang dilakukan pemerintah kelurahan adalah dengan memangkas tanaman dan pohon sawit di pinggir jalan. Hal ini dilakukan agar sinar matahari tidak terhalang masuk ke area jalan yang becek.

​”Dahan dan daun yang rimbun kita bersihkan supaya matahari bisa langsung menyinari jalan. Ini penting agar proses pengeringan tanah yang berlumpur bisa lebih cepat,” jelas Ady.

​Ia juga mengklaim situasi di lapangan sudah mulai menunjukkan perubahan positif.

“Hasil cek di lokasi kemarin sore, kondisinya sudah sedikit lebih mendingan dibanding foto-foto yang beredar di medsos. Ada progres penanganan yang nyata di sana,” Ungkapnya.

​Meski ada upaya perbaikan, kenyataan pahit masih harus dirasakan para siswa. Karena jalur utama tidak bisa dilalui kendaraan, pelajar terpaksa berjalan kaki sejauh setengah kilometer demi mencapai ruang kelas.

​Ada jalur alternatif yang dibuat warga bersama pihak sekolah di sisi parit, namun jalurnya cukup jauh dan memutar.

​”Kondisinya memang sulit, tapi anak-anak tidak punya pilihan lain selain melewati jalan itu. Kami dari kelurahan terus menekan pihak kontraktor setiap hari supaya mereka tidak lepas tangan dan segera menyelesaikan beban pekerjaan mereka,” pungkasnya. (Adv)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *