PENAJAM – Kepala Kebudayaan dan Produk Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Penajam Paser Utara (PPU), Christian Nur Selamat, menyampaikan, ritual Belian yang ada dalam festival Nondoi bukanlah ritual eksklusif hanya untuk kelompok tertentu. Siapa saja, termasuk masyarakat umum, diperbolehkan mengikuti prosesi adat yang diwariskan leluhur tersebut.
“Belian itu bisa diikuti siapa pun, tidak hanya masyarakat Paser. Warga bisa datang dengan pakaian biasa, menyampaikan niat atau hajatnya, tanpa ada kewajiban melakukan pembayaran atau penebusan tertentu,” jelas Christian.
Dalam pelaksanaannya, ritual Belian biasanya diiringi musik tradisional yang tak terpisahkan dari jalannya ritual yang penuh makna spiritual.
Christian menambahkan, keterbukaan Belian bagi siapa saja menunjukkan, ritual ini adalah bagian dari kearifan lokal yang bersifat inklusif, bukan sekadar milik satu rumpun adat.
“Kalimantan mengenal Belian dengan berbagai sebutan, seperti Balian atau Walian, dan masing-masing punya fungsi yang sama, membersihkan diri, menyembuhkan, serta menghormati leluhur,” pungkasnya.







