Stunting Masih Tinggi, DPRD Kaltim Minta Penguatan Layanan Gizi hingga Sanitasi

Samarinda — Sorotan terhadap lambatnya penurunan stunting di Kalimantan Timur kembali menguat setelah DPRD menilai sejumlah program yang berjalan belum berdampak optimal di lapangan.

Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, menyebut penanganan stunting selama ini cenderung administratif dan belum menyentuh faktor-faktor dasar yang justru paling menentukan.

Ananda menilai distribusi tenaga gizi masih timpang antardaerah. Beberapa kecamatan memiliki tenaga gizi yang memadai, sementara kawasan lain hanya bergantung pada kader posyandu yang bekerja dengan sumber daya terbatas.

“Ada wilayah yang hanya punya satu atau dua tenaga gizi untuk menjangkau puluhan posyandu,” ujarnya, Minggu (30/11/2025).

Kondisi ini diperburuk oleh masalah sanitasi rumah tangga yang hingga kini masih menjadi titik lemah. Banyak keluarga di kawasan pinggiran kota maupun pedesaan tidak memiliki akses MCK layak maupun fasilitas air bersih yang stabil.

Menurut Ananda, dua faktor ini saling berkelindan dan berpengaruh langsung terhadap pola tumbuh kembang anak.

Selain itu, ia turut menekankan pentingnya memperbaiki kualitas kesehatan remaja putri sebagai bagian dari intervensi jangka panjang. Ia menyebut kasus anemia masih tinggi dan sering diabaikan, padahal kondisi tersebut sangat berpengaruh pada kesehatan ibu dan risiko stunting pada bayi.

“Kalau remaja putrinya sudah anemia sejak awal, bagaimana mereka bisa menjalani kehamilan dengan sehat?” katanya.

DPRD menilai lambatnya laju penurunan stunting yang hanya turun 0,7 persen dalam tiga tahun menjadi alarm serius bagi pemerintah provinsi.

Menurut Ananda, program yang ada perlu dipetakan ulang agar intervensi benar-benar tepat sasaran, termasuk percepatan peningkatan sanitasi dan pemerataan tenaga gizi dari tingkat kelurahan hingga kecamatan.

Ia menegaskan bahwa Kaltim tidak bisa menunda lagi penyelesaian persoalan ini, apalagi daerah tengah menyiapkan generasi yang akan menghadapi momentum 2045.

“Kalau kita bicara generasi emas, maka urusan stunting harus ditangani dengan cara yang jauh lebih serius,” tutupnya. (Adv/DprdKaltim)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *