Atasi Kekurangan Alat, Distan PPU Gandeng Swasta Kelola 36 Hektar Lahan Sawah Modern

PENAJAM – Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) melakukan langkah berani untuk mengaktifkan kembali lahan-lahan tidur atau lahan bera yang selama ini tidak tergarap. Melalui kemitraan strategis dengan sektor swasta, pemerintah daerah berupaya mengoptimalkan potensi pertanian di tengah keterbatasan sarana pendukung.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan, menjelaskan bahwa kerja sama ini merupakan solusi nyata atas kendala keterbatasan alat mesin pertanian (alsintan) yang dialami daerah.

Saat ini, fokus pengelolaan lahan tersebut diarahkan ke wilayah Babulu Laut dan Sesulu.

“Kami tidak ingin berhenti hanya karena ada kendala alat. Kita harus cari jalur lain agar lahan tetap produktif. Untuk itu, kami menggandeng pihak swasta untuk menggarap lahan seluas 36 hektar dengan teknologi dan tenaga kerja mereka sendiri,” ujar Gunawan saat memberikan keterangan, Jumat (6/2/2026).

Kemitraan ini bukan sekadar tanam padi biasa. Gunawan menyebutkan bahwa pihak swasta yang bekerja sama memiliki visi untuk mengembangkan beras organik.

Penggunaan teknologi modern dalam pengolahan lahan diharapkan menjadi percontohan bagi petani lokal dalam hal efisiensi dan hasil produksi.

Meskipun peralihan ke sistem organik murni membutuhkan waktu yang tidak singkat, namun arah pengelolaan lahan di Babulu Laut dan Sesulu tersebut sudah mulai menerapkan prinsip-prinsip pertanian ramah lingkungan.

“Orientasinya memang ke beras organik karena pasarnya sangat menjanjikan. Walaupun untuk mencapai status organik penuh butuh proses setahun atau dua tahun, namun langkah awal pengelolaannya sudah dimulai dari sekarang,” imbuhnya.

Selain fokus pada komoditas beras, inovasi pertanian di PPU juga dipersiapkan untuk menyokong program prioritas pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG).

Gunawan mengaku pihaknya telah proaktif menyodorkan data produsen sayuran lokal kepada Satgas MBG untuk memastikan penyerapan produk petani daerah.

Distan PPU juga mulai mendorong penggunaan teknologi green house dan hidroponik guna menjaga ketersediaan sayur-mayur sepanjang musim.

Hal ini dilakukan agar kebutuhan bahan baku program MBG tidak menyebabkan kelangkaan atau inflasi harga di pasar umum.

“Kami sudah bersurat ke Satgas MBG melalui Pak Asisten II, lengkap dengan data kapasitas produksi dan nomor telepon kelompok tani. Harapannya, kebutuhan bahan pangan untuk program ini bisa diserap langsung dari petani kita sendiri, bukan dari luar daerah,” jelasnya.

Meski optimis, Gunawan memberikan catatan bahwa kapasitas produksi lokal saat ini diprediksi masih belum mencukupi jika harus memenuhi kebutuhan harian warga sekaligus permintaan program MBG secara serentak.

Oleh karena itu, ia terus memacu petani untuk meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan.

“Jika pasar melalui program MBG ini sudah berjalan konsisten, maka petani tidak perlu ragu lagi soal ke mana harus menjual hasil panennya. Pasarnya sudah jelas, tinggal sekarang bagaimana kita dorong produksinya agar tetap kontinu dan tidak putus,” Pungkas Gunawan.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *