PPU — Situasi kekeringan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kian mengkhawatirkan. Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten PPU mencatat lonjakan drastis kasus kebakaran lahan. Terhitung sejak Juli hingga September 2026, petugas di lapangan telah memadamkan api di sedikitnya 115 titik lokasi yang tersebar di empat kecamatan.
Kepala DPKP Kabupaten PPU, Fernando Simanjuntak, mengungkapkan bahwa tingginya frekuensi kebakaran ini membuat personelnya harus bersiaga ekstra penuh. Dalam sehari, peristiwa kebakaran bahkan bisa terjadi di beberapa tempat sekaligus secara bersamaan.
“Penanganan kebakaran lahan yang kami tangani sejak bulan Juli hingga September diperkirakan telah mencapai 115 titik api di berbagai tempat yang terjadi di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Babulu, Waru, Sepaku, dan Penajam,” kata Fernando,(23/9/26).
Berdasarkan data pemetaan posko Damkar, dari total seluruh kasus yang ditangani tahun ini, mayoritas mutlak merupakan kebakaran lahan gambut dan semak belukar. Sementara untuk kasus kebakaran pemukiman atau bangunan warga, jumlahnya tercatat masih relatif rendah yakni baru sekitar 38 kasus sejak awal Januari hingga saat ini.
Saat ini, intensitas kebakaran terparah berpusat di wilayah Kecamatan Penajam dan Kecamatan Babulu.
“Dua daerah tersebut menjadi fokus perhatian utama petugas di lapangan karena tingkat kekeringan tanah yang sangat tinggi,” Jelasnya.
Khusus untuk kawasan Babulu, kondisi diperparah karena wilayah lumbung padi tersebut dilaporkan sama sekali belum tersentuh guyuran hujan dalam beberapa waktu terakhir.
Fernando mengkhawatirkan jika kondisi cuaca panas ini terus bertahan, maka jumlah sebaran titik api baru di lapangan masih berpotensi besar untuk terus merembet dan bertambah banyak.
Menyikapi ancaman lingkungan tersebut, Pemkab PPU melalui pihak Damkar menegaskan tidak akan menurunkan tensi pengawasan di lapangan. Berdasarkan hasil koordinasi dan perkiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi bencana hidrometeorologi berupa kekeringan ekstrem ini diprediksi masih akan berlangsung cukup lama.
Petugas memperkirakan cuaca panas di PPU baru akan mulai melandai pada awal tahun depan. Oleh sebab itu, status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan terus dipertahankan demi mengantisipasi potensi munculnya titik api susulan.
“Potensi hidrometeorologi ini diprediksi masih akan berlangsung hingga bulan Januari mendatang, sehingga status siaga terus ditetapkan untuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang mungkin akan datang kembali,” pungkas Fernando.







