PENAJAM — Ketua Komisi II DPRD Penajam Paser Utara (PPU), Thohiron, kembali menyoroti persoalan gizi anak sebagai faktor utama dalam penanganan stunting. Ia mengingatkan para orang tua, khususnya ibu, untuk tidak terlalu mengandalkan makanan instan dalam memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka.
“Sekarang ini banyak anak yang dibiasakan makan mie instan atau makanan cepat saji karena dianggap praktis dan lebih disukai. Tapi pola makan seperti itu tidak sehat, apalagi untuk anak usia dini. Masa pertumbuhan lima tahun pertama itu sangat krusial,” ujar Thohiron.
Menurutnya, salah satu tantangan besar dalam upaya pencegahan stunting adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap gizi seimbang. Banyak orang tua, katanya, masih menganggap makanan sehat harus mahal, padahal bahan bergizi justru bisa ditemukan di sekitar rumah dengan harga terjangkau.
“Yang dibutuhkan itu wawasan. Kalau orang tua punya pengetahuan yang cukup, mereka bisa olah bahan sederhana seperti sayur, ikan, dan telur jadi makanan bergizi tanpa harus mahal,” ujarnya.
Thohiron juga menekankan pentingnya edukasi gizi sejak dini, bahkan sebelum pernikahan. Calon orang tua perlu disiapkan secara mental dan pengetahuan agar mampu memberikan asupan yang tepat bagi anak-anak mereka.
“Edukasi gizi harus dimulai sejak pranikah. Jangan tunggu sampai anak lahir baru bingung soal makanan sehat. Ini tanggung jawab bersama dari pemerintah sampai keluarga,” tegasnya.
Ia mendorong agar seluruh elemen terkait, seperti Puskesmas, Posyandu, dan kader kesehatan desa, terus aktif memberikan penyuluhan dan pendampingan kepada masyarakat. Ia yakin, jika edukasi gizi dilakukan secara berkelanjutan, angka stunting di PPU bisa ditekan lebih cepat.
“Anak-anak yang tumbuh sehat adalah masa depan daerah ini. Jadi kita semua harus peduli, mulai dari apa yang mereka makan setiap hari,” pungkasnya.







