Produktivitas Padi PPU Turun Tipis, Distan PPU Targetkan 7.000 Hektare Tanam di MT I

PENAJAM – Dinas Pertanian (Distan) Penajam Paser Utara (PPU) kini tengah memacu realisasi target luas tanam Musim Tanam (MT) I periode 2025-2026. Upaya ini dilakukan di tengah tantangan cuaca ekstrem dan laporan penurunan tipis pada hasil panen per hektare (produktivitas) padi lokal.

​Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan, mengungkapkan bahwa memasuki bulan Desember, realisasi luas lahan yang sudah ditanami baru mencapai 5.600 hektare. Capaian ini masih menyisakan pekerjaan rumah bagi dinas, mengingat target yang ditetapkan cukup ambisius.

​”Prestasi tanam kita baru mencapai 5.600 hektare di Desember ini. Harapan kita nantinya ya bisa terpenuhi 7.000 hektare,” kata Gunawan (12/12/2025).

​Periode MT I 2025-2026 saat ini sudah berlangsung, dan Distan PPU berharap proses penanaman dapat segera tuntas di seluruh wilayah yang telah ditetapkan. Jika proses tanam berjalan lancar dan cuaca mendukung, puncak panen dari MT I ini diprediksi akan terjadi pada bulan Februari 2026.

​Mengejar target 7.000 hektare ini sangat krusial, mengingat PPU memiliki potensi luas lahan yang stabil.

Gunawan menyebutkan bahwa secara keseluruhan, luas tanam di PPU cukup stabil, yaitu sekitar 13.600 hektare yang terbagi dalam dua musim tanam setiap tahunnya. Kestabilan ini harus diiringi dengan hasil yang optimal untuk menjaga ketersediaan pangan daerah.

​Di balik upaya peningkatan luas tanam, Distan PPU menghadapi masalah serius lain, yaitu penurunan produktivitas padi. Berdasarkan informasi yang didapat Gunawan dari data Kerangka Sampel Area (KSA) yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat penurunan tipis hasil panen per hektare dari tahun ke tahun.

​”Saya dapat informasi data KSA, data produksi KSA kita ini turun sedikit. Ini di 2024 kemarin produktivitas kita 3,52 ton/hektare, yang tahun 2025 3,51 ton/hektare. Jadi turun,” ungkapnya.

​Penurunan sebanyak 0,01 ton per hektare ini, meskipun terbilang kecil, menimbulkan kekhawatiran karena terjadi saat harga komoditas padi sedang tinggi.

Gunawan menduga kuat bahwa penyebab utama dari kemerosotan tipis ini adalah faktor cuaca ekstrem yang semakin tidak menentu. Cuaca ekstrem dapat memicu serangan hama penyakit, memengaruhi proses pengisian bulir, atau menyebabkan kerusakan fisik pada tanaman, yang kesemuanya berujung pada penurunan kualitas dan kuantitas hasil panen.

​”Luas tanamnya sebenarnya ada stabil si 13.600 hektare dalam 2 MT. Hanya saja padahal harga bagus, kok yang jadi masalah agak turun sedikit produktivitas kita,” pungkas Gunawan. (Adv)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *