PENAJAM – Keluhan masyarakat terkait kondisi lampu penerangan jalan umum (PJU) dan lampu lalu lintas (traffic light) yang sering mati di sepanjang jalur utama Penajam Paser Utara (PPU) akhirnya mendapat perhatian serius. Meski status jalan tersebut merupakan kewenangan pemerintah pusat, Dinas Perhubungan (Dishub) PPU mengambil langkah proaktif demi menjamin keselamatan pengguna jalan.
Sekretaris Dinas Perhubungan PPU, Andi Sunra Satriadi Sumaryo, mengungkapkan bahwa kendala utama kerusakan fasilitas jalan ini dipicu oleh faktor usia.
Banyak perangkat teknis di lapangan yang kondisinya sudah sangat tua, bahkan beberapa di antaranya merupakan aset peninggalan sejak sebelum pemekaran kabupaten atau sudah berusia lebih dari 10 tahun.
“Secara teknis, alat-alat tersebut sebenarnya sudah tidak layak. Di era sekarang, seharusnya kita sudah beralih ke teknologi yang lebih modern seperti solar cell atau tenaga surya. Namun, karena ini merupakan aset lama, sering sekali terjadi gangguan yang menyebabkan lampu kadang menyala dan kadang mati,” jelas Andi Sunra saat memberikan keterangan, Selasa (4/2/2026).
Andi tidak menepis bahwa ketidakstabilan fasilitas jalan di jalur nasional ini sering memicu kebingungan masyarakat. Meskipun secara regulasi merupakan tanggung jawab Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) di bawah kementerian pusat, masyarakat tetap menyampaikan keluhannya kepada pemerintah daerah selaku pemilik wilayah.
“Kami sadar betul ini kewenangan pusat, tapi keselamatan warga kami adalah atensi utama. Lampu yang mati-nyala itu sangat membahayakan, apalagi saat malam hari. Kami sudah berkoordinasi dengan bidang prasarana untuk melakukan pemeliharaan darurat semampu kami, meski sifatnya belum bisa optimal karena keterbatasan spesifikasi alat yang sudah kuno,” tambahnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Dishub PPU tahun ini mengalokasikan anggaran sebesar Rp300 juta khusus untuk melakukan kajian kebutuhan perlengkapan jalan di seluruh kecamatan.
Kajian ini bertujuan untuk mendata secara mendalam titik-titik krusial yang membutuhkan perbaikan total, mulai dari rambu, marka jalan, hingga lampu penerangan.
Beberapa titik yang menjadi fokus utama dalam kajian ini meliputi Simpang Tiga Masjid Ar-Rahman, Simpang Tiga Gerbang Madani dekat Polres PPU, hingga kawasan Taman Rosaline.
Jalur-jalur ini dinilai sangat vital bagi mobilisasi warga maupun kendaraan yang menuju kawasan IKN.
“Hasil kajian teknis ini nantinya akan kami serahkan langsung kepada kementerian pusat melalui BPTD. Kami ingin menunjukkan data nyata di lapangan bahwa kebutuhan kita bukan sekadar perbaikan kecil atau tambal sulam, melainkan revitalisasi menyeluruh,” tegas Andi.
Ia berharap, meskipun saat ini kemampuan keuangan daerah sedang difokuskan pada pemenuhan belanja pegawai dan kebutuhan dasar, pemerintah pusat dapat segera merespons hasil kajian tersebut dengan mengucurkan anggaran perbaikan fisik.
“Harapan kami, setelah kajian ini selesai, pusat bisa segera turun tangan. Pak Bupati juga sudah berupaya mengusulkan ini saat bertemu Wamenhub di Jakarta. Tujuannya satu, agar wajah pintu gerbang nusantara ini benar-benar terang dan aman bagi semua orang,” Pungkasnya.







