PENAJAM – Yayasan Sekolah Islam Terpadu (SIT) Nurul Hikmah Penajam menggelar seminar parenting bertajuk “Orang Tua Asyik, Anak Tertarik: Tips Trik Mendampingi Gen Z Alpha Tanpa Baper”, di Aula Lantai 1 Kantor Bupati Penajam Paser Utara (PPU). Acara ini dihadiri oleh puluhan orang tua murid mulai dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA.
Dalam sambutannya, Pembina Yayasan Nurul Hikmah, Imam Sujius, menekankan bahwa peran orang tua adalah kunci utama dalam keberhasilan pendidikan anak.
Beliau meluruskan pemahaman yang selama ini sering dianggap keliru oleh sebagian orang tua, yaitu menganggap tugas mendidik anak selesai setelah anak masuk ke sekolah.
Ia menegaskan bahwa sekolah hanya berfungsi sebagai mitra, namun tanggung jawab paling besar tetap berada di pundak ayah dan ibu.

“Pendidikan anak itu sebetulnya ada pada orang tua, sementara sekolah atau lembaga lain hanyalah mitra. Penentu masa depan anak adalah Bapak dan Ibunya. Sebaik apa pun pendidikan di sebuah lembaga, jika orang tuanya bersikap asal-asalan dan merasa cukup hanya dengan menyerahkan anak ke sekolah, maka tujuan pendidikan itu tidak akan tercapai,” ujar Imam Sujius, Sabtu (7/2/26).
Ia juga mengingatkan para peserta bahwa anak adalah ujian sekaligus ladang amal jariyah bagi orang tua.
Menurutnya, ilmu bermanfaat yang diperoleh anak akan menjadi pahala yang terus mengalir bagi orang tua meskipun sudah tutup usia.
“Anak yang sholeh dan sholehah pasti mendoakan kita. Kehadiran Bapak dan Ibu di sini menunjukkan cinta dan perhatian besar kepada anak-anak agar mereka mendapatkan ilmu yang bermanfaat sehingga doanya bisa kita harapkan saat kita sudah tidak ada lagi di dunia,” tambah Imam Sujius.
Seminar ini menghadirkan narasumber nasional, Malique, yang merupakan CEO Skyhare Academy Indonesia.
Malique menuturkan tantangan nyata yang dihadapi orang tua saat ini. Menurutnya, anak-anak generasi sekarang atau Gen Z Alpha memiliki beban mental yang berbeda karena hidup di tengah gempuran teknologi dan informasi yang tidak terbatas.
Ia menjelaskan bahwa banyak anak saat ini merasa minder atau justru kecanduan gadget karena stimulasi dari media sosial yang sulit dikontrol.
Hal ini semakin diperparah jika pola asuh di rumah cenderung terlalu mengekang (over protective) atau malah terlalu membebaskan (permisif).
“Kondisi ini sering kali membuat kemandirian dan rasa tanggung jawab anak tidak tumbuh dengan maksimal,” jelas Malique.
Oleh karena itu, ia memperkenalkan konsep “Segitiga Emas Karakter”, yaitu sinergi yang kuat antara rumah, sekolah, dan lingkungan. Ketiga pilar ini harus sejalan agar anak memiliki pegangan karakter yang kokoh.
Agar anak tidak merasa asing dengan orang tuanya sendiri, Malique memberikan kunci utama yakni menjadi “tempat pulang” yang paling nyaman.
Ia mengajak para orang tua untuk mulai belajar bertumbuh bersama anak dengan cara membangun komunikasi yang lebih personal dan hangat.
“Jangan pernah lelah menjadi tempat pulang bagi anak-anak kita. Berikan mereka ruang untuk mengekspresikan diri serta berikan dukungan mental dan emosional yang kuat. Kita harus aktif mendengarkan mereka, memberikan umpan balik yang positif, dan memahami bahwa mereka juga butuh waktu serta perhatian khusus dari kita,” pesannya.
Ia meyakini bahwa ketika orang tua mampu tampil asyik dan mengerti kebutuhan anak, maka anak akan dengan sendirinya merasa tertarik untuk terbuka.
Dengan komunikasi yang personal dan sinergi yang terus menerus, tantangan mendidik Gen Z Alpha di tengah pengaruh internet bisa dihadapi dengan lebih tenang dan tanpa rasa “baper” berlebihan.
Acara yang berlangsung interaktif ini diakhiri dengan sesi tanya jawab, di mana para orang tua saling berbagi pengalaman mereka dalam mendampingi anak-anak dari jenjang SD hingga SMA.
Melalui seminar ini, diharapkan para orang tua di PPU semakin bersemangat dalam mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang berkarakter dan membanggakan.()
Penulis: Ayu
Editor: Muhammad Yusuf







