Kasus Dugaan Keracunan Siswa: Operasional SPPG Waru Dihentikan, Titik Lain Program MBG di PPU Tetap Berjalan

PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memastikan bahwa penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) hanya dilakukan pada unit layanan tertentu. Langkah ini menyusul dugaan keracunan massal yang dialami siswa SDN 008 Waru dan SMAN 2 PPU baru-baru ini.

Bupati PPU, Mudyat Noor, menjelaskan bahwa berdasarkan surat dari Deputi Pemerintah Pusat, penghentian operasional hanya ditujukan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Waru.

Sementara itu, satuan pelayanan di wilayah lain di PPU dipastikan tetap berjalan normal sesuai jadwal.

“Surat dari pusat sudah kami terima. Isinya adalah pemberhentian sementara khusus untuk pelaksanaan MBG yang dikelola oleh SPPG Waru. Jadi, untuk titik pelayanan lainnya masih tetap berjalan,” terang Mudyat pada Selasa (17/2/2026).

Meskipun penghentian ini bersifat lokal di satu wilayah, Mudyat menilai insiden ini menjadi alarm keras bagi seluruh sistem distribusi Sppg di PPU.

Ia menyebut titik penting yang harus segera dibenahi adalah rantai pemeriksaan dan pengolahan bahan makanan sebelum sampai ke tangan siswa.

“Sebenarnya standarnya sudah ada dan persyaratannya sangat jelas karena ini program unggulan pusat. Namun, di proses pemeriksaan makanan inilah yang harus sangat kita perketat lagi agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.

Di tengah situasi darurat yang berkembang, Mudyat juga menyoroti lambannya koordinasi dari sejumlah pejabat teknis di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) atau SKPD terkait.

Ia menyayangkan adanya keterlambatan respons saat laporan keracunan mulai mencuat ke permukaan.

“Kalau ada kondisi darurat seperti ini, seharusnya konfirmasi dilakukan dengan cepat dan langsung ditindaklanjuti. Saya akan mempertanyakan alasan ketidakhadiran atau respons lambat dari jajaran teknis. Nanti saya minta Pak Sekda untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja mereka,” tambah Mudyat.

Selain urusan teknis dan administrasi, Pemkab PPU kini tengah fokus memantau kondisi psikologis para siswa yang terdampak di SDN 008 dan SMAN 2 Waru.

Menurut Mudyat, dampak trauma pasca-kejadian tidak boleh diabaikan begitu saja.

“Trauma itu hal yang nyata dan tidak bisa dianggap remeh. Sambil menunggu arahan lebih lanjut dari pusat mengenai kapan SPPG Waru bisa beroperasi kembali, kami terus melakukan koordinasi dan memastikan anak-anak kita mendapatkan perhatian yang layak,” Pungkasnya.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *