PENAJAM – Para orang tua siswa di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tidak perlu khawatir soal kelanjutan program makan siang gratis saat bulan puasa nanti. Pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan terus menyasar sekolah-sekolah di wilayah PPU, sepanjang bulan Ramadan.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) PPU, Andi Singkerru, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah pihaknya melakukan koordinasi intensif dengan Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional.
Setelah libur atau masa jeda sekolah, aktivitas belajar mengajar akan kembali efektif mulai Senin, 23 Februari 2026.
Sejalan dengan itu, distribusi makanan bergizi untuk para siswa juga akan langsung dimulai pada tanggal tersebut.
“Anak-anak kita baru masuk sekolah pada tanggal 23 Februari 2026. Hasil koordinasi kami memastikan bahwa distribusi MBG akan kembali berjalan normal seiring dengan mulainya kegiatan belajar di sekolah,” ujar Andi Singkerru, Kamis (19/2/2026).
Mengingat pelaksanaan program ini beririsan dengan bulan suci Ramadan, pemerintah telah menyiapkan skema khusus.
Agar kualitas makanan tetap terjaga dan tetap higienis saat dibawa pulang atau dikonsumsi nanti, petugas akan memberikan makanan dalam bentuk paket kering atau kemasan box.
“Petugas akan menyalurkan makanan dalam bentuk paket box agar kualitasnya tetap terjaga sampai waktu konsumsi tiba,” tambahnya.
Andi juga memberikan catatan penting bagi sekolah yang memiliki agenda khusus di bulan puasa. Jika ada sekolah yang berencana menggelar acara buka puasa bersama, pihak sekolah diminta segera melapor.
“Kalau sekolah mau mengadakan buka puasa bersama, tolong informasikan jauh-jauh hari kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) supaya koordinasinya lancar dan jadwal masaknya bisa disesuaikan,” tegas Andi.
Mengenai keamanan pangan, Andi Singkerru menjamin bahwa setiap porsi makanan yang sampai ke tangan siswa telah melalui pengawasan ketat.
Saat ini, dapur SPPG sudah dilengkapi dengan fasilitas yang sangat memadai dan didampingi oleh tenaga ahli gizi.
“Di dapur SPPG ada ahli gizinya dan alat-alat masaknya sudah sangat lengkap. Jadi, seharusnya produksi makanan jauh lebih aman dan bersih,” jelasnya.
Ia juga terus mengingatkan pihak penyedia layanan agar tidak main-main dengan kualitas menu. Standar kesehatan dan jumlah porsi yang sudah ditentukan wajib dipenuhi agar tidak muncul masalah kesehatan pada siswa di kemudian hari.
“Keseimbangan gizi itu nomor satu. Penyedia layanan wajib memenuhi kuota dan standar kesehatan yang sudah ada. Kita ingin anak-anak kita sehat dan cerdas lewat program ini,” pungkasnya.







