PENAJAM – Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) melaporkan adanya kenaikan signifikan terkait serangan hama dan penyakit pada tanaman pangan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan, mengungkapkan bahwa pada tahun 2026 ini, tingkat serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sudah berada di atas ambang batas yang mengkhawatirkan.
”Untuk hama penyakit di Kabupaten PPU khusus tanaman pangan itu ada lima UPT utama. Pengendalinya mulai dari penggerek batang, wereng, tikus, blas, sampai hawar daun bakteri. Tahun 2026 ini kenaikannya sudah di atas ambang batas, yang seharusnya 5,9 sekarang menjadi 10,9. Kenaikannya mencapai 100 persen,” ujar Gunawan saat ditemui pada Senin, (2/2/26).
Menurutnya, jenis penyakit yang paling mendominasi saat ini adalah blas dan hawar daun, sementara pada musim tanam sebelumnya petani lebih banyak berhadapan dengan penggerek batang. Dampak dari serangan ini sangat dirasakan pada hasil panen yang merosot tajam.
Gunawan menjelaskan bahwa produktivitas lahan saat ini rata-rata hanya menghasilkan 3 ton padi, jauh dari target normal sebesar 6 ton.
”Kerugian kita dari hasil panen untuk setiap musim tanamnya, saat seharusnya mencapai 6 ton, sekarang cuma dapat 3 ton serapan padi. Ini bukan kerugian dari OPT saja, ada memang dari kondisi tanah kita sendiri yang kritis, ibaratnya sedang sakit. Kecuali untuk titik-titik di mana pertanian organik dilaksanakan, itu hasilnya sudah bisa mencapai 6 ton,” jelasnya.
Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Pertanian telah menyalurkan bantuan melalui gerakan pengendalian penyakit berdasarkan laporan dari lapangan.
Namun, Gunawan menekankan bahwa bantuan racun atau pestisida tersebut hanya bersifat stimulan untuk membantu petani, bukan untuk mengakomodir seluruh kebutuhan lahan secara penuh.
Ia mencontohkan jika terjadi serangan seluas 100 hektare, bantuan racun tikus yang diberikan berkisar 40 kilogram.
Pemerintah daerah kini tengah gencar mensosialisasikan solusi jangka panjang agar petani tidak terus-menerus bergantung pada pestisida kimia.
Fokus utama diarahkan pada penggunaan agen hayati dan perbaikan pola budidaya.
”Harapan kami ke depannya petani bisa mandiri dengan melakukan pengendalian jangka panjang. Mulai dari sekarang kita kelola tempat budidaya supaya kurang hama penyakitnya, misalnya dengan tanam serentak. Pada saat pengolahan lahan, pembalikan tanahnya harus benar-benar dilakukan untuk mengurangi bibit penyakit yang ada di tanah,” Pungkas Gunawan.
Distan PPU melalui tim UPT terus memberikan edukasi mengenai pembuatan agen hayati secara mandiri seperti Trichoderma dan kompos.
Langkah ini diambil agar petani di Penajam memiliki bekal pengetahuan untuk menjaga keberlanjutan lahan mereka di masa depan tanpa harus selalu bergantung pada bantuan darurat dari pemerintah.







