PENAJAM – Kasus dugaan keracunan makanan massal menimpa puluhan pelajar di Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Rabu (11/2/2026).
Sebanyak 25 siswa yang berasal dari SDN 008 Waru dan SMAN 2 PPU terpaksa dilarikan ke Puskesmas Waru setelah mengeluhkan mual, muntah, hingga sesak napas usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Data sementara mencatat korban terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan. Beberapa di antaranya bahkan harus menjalani perawatan intensif dan menggunakan infus akibat kondisi tubuh yang lemas.
Wakil Bupati PPU, Waris Muin, menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden ini. ia menegaskan bahwa kejadian ini menjadi bahan evaluasi besar bagi pemerintah daerah, mengingat program pemenuhan gizi ini biasanya berjalan lancar di wilayah lain.
“Kasus seperti ini memang di luar nalar kita, tapi inilah kenyataan yang harus jadi bahan evaluasi. Kami akan memanggil setiap stakeholder yang terlibat untuk mencari tahu penyebab pastinya. Pengawasan di wilayah lain selama 2-3 bulan ini baik-baik saja, namun di Waru mungkin ada celah pengawasan pada menu tambahan seperti buah atau sejenisnya,” ujar Waris Muin.
Waris juga menambahkan bahwa dirinya rutin melakukan kontrol harian melalui laporan foto dari guru dan siswa di sekolah-sekolah lain.
Namun, untuk wilayah Waru, pengawasan sempat terkendala karena adanya kegiatan di luar daerah. Ia memastikan pihak pemerintah akan segera menyurat secara resmi kepada pengelola setelah Sekretaris Daerah (Sekda) kembali ke daerah.
“Kepada seluruh orang tua siswa, kami atas nama pemerintah memohon maaf. Ini bukan kelalaian yang disengaja, tapi faktor yang tidak bisa kita prediksi sepenuhnya. Kami akan evaluasi sebaik mungkin agar anak-anak tetap sehat dan cerdas,” ungkapnya.
Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Waru memberikan penjelasan terkait asal makanan tersebut.
Visi Mitra, SPPG Waru, Yedi Kusuma, membenarkan bahwa dugaan kuat penyebab keracunan berasal dari menu puding.
Menariknya, puding tersebut bukan diproduksi langsung oleh dapur SPPG, melainkan dipesan dari UMKM lokal.
“Hari ini adalah hari pertama kami memberdayakan UMKM lokal untuk menyerap produk mereka ke dalam program dapur. Jadi, makanan yang diduga bermasalah ini adalah pesanan dari luar. Ini akan menjadi bahan evaluasi kami besok karena ada item yang rentan,” jelas Yedi.
Yedi menyebutkan bahwa sebenarnya pihak SPPG sudah melakukan filter terhadap legalitas UMKM mitra.
Namun, dugaan sementara keracunan terjadi karena kondisi makanan yang mungkin sudah melewati masa layak konsumsi (masa tenggang).
“Dari total 1.040 porsi yang disiapkan, ada 25 siswa yang bermasalah. Perlu diketahui, SPPG Waru ini baru beroperasi sejak 29 Januari lalu dan saat ini sertifikat layak higiene masih dalam proses pengurusan karena kami masih baru,” tambahnya.
Meski ada insiden ini, pihak SPPG menyatakan kegiatan MBG akan tetap beroperasi besok sambil menunggu hasil rapat tindak lanjut.
Istiana Hasanuddin, ibu dari (Rafi) siswa kelas 6 SD yang menjadi korban, menceritakan detik-detik saat ia mendapat kabar kurang menyenangkan tersebut.
“Awalnya saya dapat kabar di grup katanya tidak apa-apa, tapi tiba-tiba ditelepon disuruh ke Puskesmas karena anak saya mual dan muntah. Anak saya tidak punya alergi, tapi kata perawat ini efek alergi makanan jadinya batuk dan muntah,” kata Istiana.
Ia menceritakan bahwa anaknya sempat menyantap puding terlebih dahulu sebelum makanan berat lainnya.
Akibat kejadian ini, keluarga korban mulai meragukan keamanan program makanan gratis tersebut.
“Ayahnya tadi sempat usul, kalau bisa uangnya saja yang diberikan kepada orang tua supaya bisa masak sendiri di rumah. Kalau orang tua yang masak sendiri kan lebih terjamin kebersihannya dan tanggung jawabnya jelas,” pungkasnya.







