Sawah Kering Kerontang, Puluhan Mesin Pompa Air di Gudang Dinas Pertanian PPU Malah Menganggur

PENAJAM — Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dihadapkan pada masalah pelik di sektor pertanian. Meski stok alat penyedot air di gudang melimpah, puluhan alat tersebut terpaksa menganggur karena sawah-sawah warga kering tanpa sumber air.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten PPU, Rozihan, membeberkan kondisi di lapangan yang tidak seindah bayangan bantuan alat. Menurutnya, percuma saja pemerintah membagikan banyak mesin jika saluran atau sumber air di sekitar ladang tidak ada.

“Kalau pompa kami sudah ada 30 unit di gudang, tapi masalahnya tidak ada airnya. Yang perlu dipompakan itu kalau ada air,” ujar Rozihan, Jumat (11/9/2026).

Persoalan utama petani di PPU saat ini bukan lagi sekadar kekurangan alat mesin pertanian (alsintan), melainkan ketersediaan pasokan air secara langsung ke lahan. Kondisi ini paling dirasakan oleh para petani di Kecamatan Babulu.

Wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu lumbung pangan utama di PPU, namun sangat rentan mengalami kekeringan saat musim kemarau tiba.

Berbeda dengan Babulu, wilayah lain seperti Kecamatan Penajam dan Waru terpantau masih aman dari ancaman kekurangan air. Faktor inilah yang membuat Dinas Pertanian PPU memusatkan seluruh perhatian dan usulan pembangunan infrastruktur air ke Kecamatan Babulu.

“Kalau daerah Penajam sendiri masih aman saja. Berarti memang yang agak kurang pasokan airnya itu di Babulu, makanya sebagian besar usulan dipatok di sana,” jelasnya.

Guna mencari jalan keluar jangka panjang, Pemkab PPU tidak lagi meminta tambahan mesin pompa. Pihaknya memilih mengusulkan pembangunan infrastruktur penyokong, yakni jaringan irigasi air tanah, kepada pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BWS) lewat perantara pemerintah provinsi.

Dari total 10 unit jaringan irigasi air tanah yang diajukan, sebagian sudah mulai menampakkan hasil. Pemerintah mencatat ada 4 unit yang telah selesai dibangun dengan menyerap anggaran sekitar Rp6 miliar, sementara 6 unit sisanya masih dalam tahap penantian agar bisa segera dibangun.

Di sisi lain, upaya darurat untuk menyelamatkan tanaman padi dari kekeringan juga datang dari tingkat Provinsi Kalimantan Timur. Melalui Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH), Pemprov Kaltim menyalurkan sebanyak 300 unit pompa air portabel.

Bantuan alat sedot air tersebut disebar untuk menyelamatkan sekitar 2.000 hektare lahan sawah tadah hujan yang terdampak kekeringan ekstrem, tidak hanya di PPU tetapi juga meluas hingga Kabupaten Paser dan Kutai Timur.

Kendati demikian, bagi petani di PPU, bantuan ratusan pompa dari provinsi tersebut baru akan berfungsi maksimal jika sumur bor atau jaringan irigasi air tanah yang diusulkan Rozihan ke BWS bisa segera terealisasi seluruhnya.

“Dengan begitu, 30 unit pompa yang selama ini tersimpan rapi di gudang bisa segera diangkut ke sawah untuk mengairi bulir-bulir padi yang haus,” Pungkas Rozihan.

penulis : ayu

editor : Muhammad yusuf




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *