Transformasi Layanan Kesehatan di Penajam Paser Utara: Integrasi Layanan Primer Satukan Posyandu dan Polindes demi Pelayanan Siklus Hidup

PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus melakukan penerapan Integrasi Layanan Primer (ILP) di berbagai wilayah. Program nasional ini hadir untuk mempermudah masyarakat dalam mendapatkan akses kesehatan yang lebih terpadu, mulai dari usia balita hingga lanjut usia (lansia).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Penajam, Saryono, menjelaskan bahwa program ini sebenarnya sudah dirintis sejak era kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Namun, implementasinya terus dimatangkan hingga saat ini.

Menurut Saryono, esensi utama dari ILP adalah pelayanan kesehatan berbasis siklus hidup. Artinya, seluruh layanan kesehatan di tingkat tapak dipusatkan pada satu tempat yang sama.

“Jadi kalau di Posyandu itu semua pelayanan ditetapkan di satu tempat. Kan biasanya ada namanya Polindes yang melayani lansia. Tapi sekarang dijadikan satu, antara Polindes dengan Posyandu untuk anak balita, disatukan dalam pelayanan siklus hidup,” ujar Saryono, (11/9/26).

Meski digabung dalam satu lokasi, Saryono memastikan bahwa teknis pelaksanaannya tetap diatur secara fleksibel oleh para kader di lapangan agar tidak terjadi penumpukan warga.

“Walaupun umpamanya harinya dibedakan, tempatnya tetap di situ. Kader saja yang membagi waktunya nanti. Umpamanya kalau pagi itu khusus balita, nanti siang-siang sekitar jam sebelas giliran lansianya, diatur saja,” tambahnya.

Program integrasi ini mulai berjalan secara bertahap sejak tahun 2024 hingga kini. Namun demikian, Saryono tak memungkiri bahwa ada beberapa wilayah di Penajam yang belum sepenuhnya dapat melaksanakan ILP secara optimal karena terkendala fasilitas fisik.

“Ada beberapa Posyandu memang yang belum melaksanakan karena sehubungan dengan tempat. Tempatnya Posyandu kan banyak yang masih di rumah warga atau belum punya gedung tersendiri. Ada juga yang punya gedung, tapi tempatnya kecil, itu yang jadi kendala,” ungkap Saryono.

Untuk mengatasi keterbatasan fasilitas dan tenaga, pihak Puskesmas bersama kelurahan melakukan penyesuaian dengan menggabungkan beberapa Rukun Tetangga (RT) dalam satu titik pelayanan Posyandu.

“Kalau di Penajam itu biasanya per RT. Nah, selama ada ILP ini, ada beberapa yang sudah digabungkan. Ada tiga RT digabungkan jadi satu,” jelasnya.

Dalam menjalankan operasionalnya, setiap Posyandu didukung oleh lima orang kader masyarakat. Tugas mereka dibagi secara merata mulai dari bagian pendaftaran, pengukuran, pencatatan, penanganan balita, hingga membantu tugas bidan dalam hal penyuluhan kesehatan.

Saryono menegaskan bahwa para kader ini merupakan warga setempat yang direkrut dan diberikan insentif langsung oleh pihak kelurahan. Oleh karena itu, pihak Puskesmas memosisikan diri sebagai mitra strategis bagi para kader di kelurahan.

“Tenaga kesehatan ini bermitra dengan kader yang ada di kelurahan-kelurahan,” pungkasnya.

Dengan adanya sistem layanan primer yang terintegrasi ini, Pemkab PPU berharap kualitas kesehatan masyarakat dari berbagai kelompok usia dapat terpantau lebih dekat, cepat, dan merata hingga ke pelosok kelurahan.

penulis : ayu

editor : Muhammad yusuf




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *