Kendala Mulok Bahasa Paser di PPU: Buku Panduan Tanpa Terjemahan Bikin Guru dan Siswa Bingung

PENAJAM – Penerapan mata pelajaran Muatan Lokal (Lok) Bahasa Paser untuk jenjang SD dan SMP di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kini tengah menjadi perhatian. Meski sudah resmi masuk dalam penilaian rapor, pelaksanaannya di lapangan ternyata masih menemui hambatan serius.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) PPU, Andi Singkerru, mengakui adanya kendala tersebut.

Menurutnya, masalah utama muncul karena hilangnya kolom terjemahan Bahasa Indonesia dalam buku panduan yang diterbitkan.

Padahal, dalam rancangan awal yang dibuat oleh tim perumus, kolom terjemahan tersebut sudah disiapkan untuk membantu guru dan siswa memahami materi.

Namun, saat buku tersebut naik cetak dan diterbitkan, bagian terjemahan itu justru tidak ada.

“Dalam konsep awal, buku itu seharusnya dilengkapi terjemahan Bahasa Indonesia. Tapi saat terbit, kolom itu hilang. Inilah yang memicu kebingungan dan komplain di sekolah,” ujar Andi Singkerru, (7/2/26).

Kondisi ini menyulitkan para guru, terutama karena masyarakat PPU sangat beragam (heterogen).

Banyak siswa maupun tenaga pengajar yang berasal dari latar belakang suku berbeda, seperti Jawa atau Bugis, yang tidak menguasai Bahasa Paser.

Melihat situasi ini, para guru meminta agar materi Mulok Bahasa Paser segera diperbaiki. Mereka berharap terjemahan Bahasa Indonesia dimasukkan kembali, khususnya untuk siswa kelas 1 hingga 3 SD yang masih dalam tahap awal belajar.

“Kasihan anak-anak sekolah, apalagi tahun ini nilai Mulok sudah masuk rapor. Kalau materinya sulit dipahami, guru juga ragu dalam memberikan penilaian,” tambahnya.

Selain masalah buku, Disdikpora PPU juga sedang memutar otak untuk memenuhi kebutuhan guru Bahasa Paser.

Mengingat kuota penerimaan PNS dan PPPK yang terbatas, pemerintah daerah tengah mengkaji opsi lain, termasuk menggunakan tenaga PJLP (Pegawai Jasa Layanan Publik).

Andi menegaskan bahwa program ini sangat penting untuk menjaga identitas dan budaya lokal agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Untuk mematangkan program ini, Disdikpora berencana mengumpulkan kembali berbagai pihak terkait guna menyusun materi yang lebih kuat dan mudah diterima.

“Nanti kita akan kumpulkan lembaga adat, guru-guru pengampu, hingga tokoh masyarakat. Kita ingin penyusunan modul ini lebih inklusif (terbuka untuk semua) dan mudah dipahami oleh seluruh siswa, baik di tingkat SD maupun SMP,” Pungkasnya




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *