Remaja 14 Tahun di Babulu Ditemukan Meninggal Gantung Diri, Polisi Dalami Motif Korban

PENAJAM – Warga Desa Babulu Darat, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) digegerkan dengan penemuan jasad seorang remaja perempuan SA berusia (14 thn) yang meninggal gantung diri di kediamannya. Hingga saat ini, pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan intensif untuk mengungkap motif di balik kejadian tersebut.

Kasat Reskrim Polres PPU, AKP Hendry Dwi Azhari, mengonfirmasi bahwa korban pertama kali ditemukan oleh salah satu anggota keluarganya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, korban diperkirakan sudah meninggal dunia beberapa jam sebelum ditemukan.

“Estimasi dari waktu penemuan hingga pemeriksaan di rumah sakit itu sekitar 5 sampai 6 jam. Kemungkinan kejadiannya sejak siang hari,” ujar AKP Hendry saat memberikan keterangan kepada media, Jumat (13/2/26).

Sejauh ini, polisi telah melakukan pemeriksaan fisik terhadap jenazah di rumah sakit.

Berdasarkan hasil sementara, tim medis tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Fokus penyelidikan saat ini masih murni pada peristiwa gantung diri.

“Untuk sejauh ini belum ada tanda-tanda kekerasan. Namun, kami tetap melakukan penyelidikan mendalam mengingat korban masih di bawah umur, sehingga kami harus memaksimalkan hasil penyelidikan sementara ini,” tambahnya.

Mengenai isu yang beredar soal dugaan perundungan atau bullying yang memicu aksi nekat korban.

AKP Hendry menyatakan bahwa pihak penyidik belum menemukan bukti atau petunjuk kuat ke arah sana. Kendala utama adalah kepribadian korban yang dikenal tertutup.

“Info soal pembulian masih kami dalami. Sejauh ini belum ada petunjuk karena informasi yang kami terima, korban ini sosok yang agak introvert. Jadi, faktor penyebabnya masih terus kita gali lebih dalam,” jelasnya.

Selain melakukan olah TKP, polisi juga telah mengamankan alat yang digunakan korban untuk mengakhiri hidupnya serta mengambil keterangan dari sejumlah saksi, termasuk orang tua korban.

“Orang tua korban sudah kami interogasi untuk mendalami faktor penyebab kejadian ini,” kata Hendry.

AKP Hendry menyayangkan kejadian ini karena bukan merupakan kasus pertama yang melibatkan anak di bawah umur di wilayah tersebut.

Ia menilai kejadian ini perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, bukan hanya kepolisian.

Ke depan, Polres PPU berencana lebih meningkatkan lagi kerja sama dengan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) serta dinas terkait di pemerintahan daerah untuk menekan angka kasus yang melibatkan perempuan dan anak.

“Ini bukan yang pertama. Beberapa kasus sebelumnya juga melibatkan anak di bawah umur, baik kasus bunuh diri maupun kasus lainnya. Saya berencana menghadap ke pihak-pihak terkait untuk duduk bersama mencari solusi agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” pungkasnya.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *