PENAJAM – Penyalahgunaan narkoba bukan cuma masalah hukum, tapi juga masalah kesehatan. Di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), UPT Puskesmas Penajam selaku Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) bersinergi dengan Polres PPU membuat “jalan sembuh” yang manusiawi untuk warga yang mau lepas dari jerat narkoba.
UPT Puskesmas Penajam sebagai IPWL menjadi garda depan layanan medis, punya dokter dan paramedis terlatih narkotika. Fokus asesmen, rawat jalan, putus zat, intervensi psikososial, dan rujukan.
Kemudian, Polres PPU yang berperan dalam penegakan hukum dan rujukan, sehingga kalau ada kasus penyalahguna yang tertangkap atau menyerahkan diri, polisi tidak langsung melanjutkan ke proses hukum, kalau dia korban/pecandu. Sesuai UU 35/2009, korban bisa dirujuk ke IPWL untuk rehabilitasi medis.
Pada saat asesmen akhir terpadu yang dilaksanakan pada hari Rabu, 01 Juli 2026 terhadap 3 korban penyalahgunaan narkoba yang didampingi oleh keluarga terdekatnya dan dihadiri pula oleh dokter Rizka Aziza, MPH (PJ P2M & Promkes Puskesmas), Ipda Deden Mulyana (Kaur Bin Ops Resnarkoba Polres PPU), Saryono S.Kep (Ka UPT Puskesmas Penajam) dan dipandu oleh Daliman, S.Tr.Kes selaku asesor; sang “Srikandi Medis” menyampaikan 4 kondisi yang membuat pertahanan diri lemah, sehingga mudah kepikiran “pakai lagi”. Kondisi tersebut biasa disingkat HALT.
1. H – Hungry = Lapar. Mengapa bahaya? Karena perut kosong menyebabkan gula darah turun, badan lemas akibatnya emosi gampang naik sehingga otak susah berpikir jernih. Langkah pencegahannya dengan makanan yang sehat dan secara teratur
2. A – Angry = Marah/Kesal. Kenapa bahaya ? Marah bikin emosi meledak, mencari pelampiasan dengan cepat. Narkoba dulu dipake buat “redain” marah. Kalau marah nggak disalurkin bener, gampang kambuh. Pencegahannya dengan STOP: S = Stop, T = Tarik napas, O = Observasi perasaan, P = Proceed/pilih tindakan yaitu dengan menyalurkan ke fisik: push-up, pull up, jogging, berkebun dll. Dilanjutkan dengan curhat ke orang dipercaya: konselor IPWL Puskesmas, keluarga.
3. L – Lonely = Kesepian. Kenapa bahaya ? Saat kesepian akan terasa nggak ada yang peduli. Dulu narkoba jadi “teman”. Kalau sendirian, bisikan “pakai aja, nggak ada yang tahu” jadi lebih sering. Langkah pencegahannya: Aktif gabung komunitas positif: kegiatan masjid, klub olahraga, komunitas petani/nelayan, komunitas UMKM dll. Sepi + nganggur = bahaya.
4. T – Tired = Capek/Lelah. Kenapa bahaya ? Capek fisik/mental membuat daya tahan lemah. Tidak kuat menolak ajakan, nggak kuat nahan craving (hasrat menyalahgunakan). Langkah pencegahannya: Tidur cukup 7-8 jam. Kurang tidur menyebabkan mood jelek + craving naik. Jangan paksa banting tulang, dengarkanlah keluhan badan.
Prinsipnya: “Jangan ambil keputusan penting saat lagi HUNGRY ANGRY LONELY TIRED”
Ka. UPT Puskesmas Penajam, Saryono, S.Kep menegaskan bahwa IPWL UPT Puskesmas Penajam selalu siap melayani dan membersamai untuk hidup lebih baik dan berprestasi.
Bagi warga PPU khususnya dan juga warga Kaltim pada umumnya yang pernah atau sedang terjerat masalah penyalahgunaan zat terlarang / narkoba silahkan untuk datang langsung ke IPWL terdekat, untuk Penajam di UPT Puskesmas Penajam, Jl. Propinsi Km 1 Penajam Paser Utara.
“Petugas akan memberikan layanan asesmen sesuai standar WHO dan Kemenkes RI, dengan privasi yang dijamin aman. Mari wujudkan PPU BERSINAR,” tutur Saryono.
Kapolres Penajam Paser Utara AKBP Andreas Alek Danantara, S.I.K., M.M., M.Tr.SOU., melalui KBO Resnarkoba, Ipda Deden Mulyana, menyampaikan bahwa para pecandu selain terancam sebagai penghuni hotel prodeo selama minimal 4 tahun, juga akan mendapatkan sanksi sosial, dipandang sebagai orang tidak baik oleh masyarakat dan bagi yang sudah berkeluarga sangat beresiko mengalami “broken home”.
“Tetapi kami dari Polres PPU berkomitmen, pecandu adalah korban yang harus dipulihkan, bukan dijauhi.” ucapnya.
Lanjutnya, kolaborasi ini menjadi salah satu bukti kalau PPU tidak mau menyerah dengan narkoba. Walau masih terkendala pada akun selaras, tidak menyurutkan semangat untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat.
“Negara hadir bukan cuma buat menangkap penyalahguna, tapi juga untuk menyembuhkan. Satu orang yang sembuh = satu keluarga yang selamat,” jelasnya.(*)







