PPU — Keterbatasan tenaga pengajar yang fasih berbahasa daerah menjadi salah satu kendala utama dalam pelaksanaan mata pelajaran muatan lokal (mulok) bahasa Paser di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah guna memenuhi kebutuhan guru mulok di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten PPU, Durajat, mengungkapkan bahwa mulok bahasa Paser sebenarnya telah diterapkan sejak tahun 2020 lalu. Program ini sengaja digulirkan dengan tujuan mulia untuk memperkenalkan bahasa daerah kepada peserta didik, sekaligus menjaga kelestariannya di tengah perkembangan zaman.
Namun, dalam perjalanannya, pihak dinas menemui tantangan besar di lapangan terkait kompetensi tenaga pendidik. Pembelajaran muatan lokal ini selama ini masih memanfaatkan tenaga pendidik yang seadanya di masing-masing sekolah.
“Guru yang ditugaskan mengajar muatan lokal bahasa Paser tidak semuanya memiliki kemampuan berbahasa Paser,” ujar Durajat, (27/10/2026).
Durajat menjelaskan bahwa hambatan ini sejatinya sempat ingin disiasati dengan melibatkan warga lokal. Di tengah masyarakat PPU, sebenarnya ada banyak warga asli yang memiliki kemampuan fasih berbahasa Paser dan punya potensi besar untuk membantu proses belajar mengajar di kelas.
Namun, langkah tersebut terbentur oleh aturan formal kepegawaian negara. Sebagian besar dari masyarakat yang menguasai bahasa daerah tersebut ternyata belum memenuhi kualifikasi standar pendidikan minimal yang dipersyaratkan untuk menjadi seorang guru resmi di sekolah.
Pemerintah daerah menegaskan bahwa upaya memenuhi kebutuhan pengajar ini tidak bisa sembarangan. Selain mempertimbangkan kefasihan seseorang dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Paser, instansi terkait juga wajib mematuhi aturan latar belakang pendidikan dan kualifikasi resmi sebagai tenaga pendidik.
“Namun, tidak semua guru yang mendapat tugas mengampu mata pelajaran tersebut menguasai bahasa Paser dengan baik. Kondisi ini menjadi tantangan dalam memastikan pembelajaran berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan,” tambah Durajat.
Sebagai solusi konkret untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Disdikpora PPU memilih jalur penguatan kapasitas internal. Pihak dinas berencana untuk meningkatkan kemampuan para guru kelas atau guru mata pelajaran yang sudah ada di sekolah melalui program pelatihan bahasa Paser khusus.
Langkah jemput bola ini dinilai menjadi strategi yang paling realistis dan aman secara regulasi hukum. Melalui program pelatihan tersebut, para guru diharapkan dapat lebih mendalami materi sekaligus menaikkan kualitas penyampaian metode pembelajaran kepada para murid.
“Kami berencana memprogramkan pelatihan bahasa Paser bagi tenaga guru agar pengajaran muatan lokal ini berjalan optimal,” Pungkasnya.
Melalui program peningkatan kompetensi guru ini, Disdikpora PPU berharap proses transfer ilmu di dalam kelas dapat berjalan jauh lebih efektif. Pemerintah daerah berkomitmen kuat agar mulok ini mampu menumbuhkan minat generasi muda untuk kembali mengenal, mempelajari, dan bangga menggunakan bahasa Paser dalam kehidupan sehari-hari.(Adv)
Penulis: Ayu







